Pernah nggak kalian kepikiran, kenapa sih kalau ada acara nikahan, fokus utamanya hampir selalu tertuju pada pengantin wanita? Mulai dari makeup, gaun, sampai detail dekorasi pelaminan, semua diperhatikan sampai ke akar-akarnya. Sementara itu, calon pengantin pria biasanya cuma sibuk memastikan baju beskapnya muat atau latihan ijab kabul biar nggak salah sebut. Padahal, kalau kita ibaratkan membangun rumah tangga itu seperti merakit sistem operasi komputer yang super kompleks, maka pernikahan adalah saat di mana kita harus memastikan hardware dan software-nya berjalan sinkron. Masalahnya, banyak yang lupa kalau "penginstalannya" butuh dua orang, bukan cuma satu.
Kemendukbangga alias BKKBN baru-baru ini bikin pernyataan yang sebenarnya menampar kesadaran kita semua. Mereka bilang, peran laki-laki dalam persiapan pernikahan itu krusial banget. Jangan sampai deh, kita terjebak dalam mindset jadul yang menganggap urusan anak itu "jatahnya ibu". Itu sih sama saja dengan menyuruh satu orang buat main bulu tangkis sendirian di lapangan ganda. Capeknya dua kali lipat, dan peluang buat menang tipis banget.
Menjadi Ayah Bukan Cuma Soal "Transferan" Bulanan
Banyak orang mengira tugas seorang suami itu cuma dua: kasih nafkah dan pulang kerja dengan selamat. Kalau di dunia game, mungkin ini cuma level paling awal, ibarat kalian baru berhasil login ke dalam permainan. Padahal, realita setelah menikah itu jauh lebih menantang. Direktur Bina Ketahanan Remaja Kemendukbangga, Irma Ardiana, menekankan bahwa pernikahan itu bukan garis finis setelah prosesi akad atau pemberkatan. Itu baru loading screen awal dari petualangan panjang seumur hidup.
Bayangkan kalian sedang naik kapal layar di tengah samudra. Kalau cuma satu orang yang mendayung, kapal itu pasti bakal muter-muter di tempat. Padahal, ada ombak besar bernama "pengasuhan anak" yang menanti. Ayah itu harus hadir, bukan cuma secara fisik (ada di rumah sambil main HP), tapi juga secara emosional. Kita butuh sosok ayah yang bisa jadi sumber kasih sayang, pelindung, sekaligus guru pertama bagi anak-anaknya. Kalau ayah cuma "hadir" sebagai pajangan, anak-anak bakal merasa ada yang kurang dalam "sistem operasi" perkembangan psikologis mereka.
Fenomena Fatherless: Saat "Jaringan" Keluarga Mengalami Gangguan
Kalian tahu nggak istilah fatherless? Ini bukan berarti ayahnya meninggal dunia, melainkan kondisi di mana sang ayah ada di rumah, tapi secara psikologis absen total. Ibarat kalian punya Wi-Fi yang sinyalnya penuh di layar HP, tapi pas dipakai buat browsing malah nggak ada koneksi sama sekali. Nol besar.
Data dari Kemendukbangga/BKKBN tahun 2025 menunjukkan fakta yang bikin miris: satu dari empat anak di Indonesia merasa kehilangan sosok ayah. Kalau kita pakai hitung-hitungan sederhana, itu berarti sekitar 25 persen anak-anak kita tumbuh dalam kondisi "sinyal lemah". Yang lebih mengejutkan lagi, fenomena ini justru lebih tinggi di pedesaan (26,3 persen) dibanding perkotaan (25,4 persen). Ini bukti kalau masalah "ayah yang absen" bukan cuma masalah orang sibuk di kota besar, tapi sudah jadi isu nasional yang harus segera kita tangani.
Kenapa ini berbahaya? Karena anak yang tumbuh tanpa figur ayah yang kuat cenderung punya risiko masalah mental yang lebih tinggi. Data menunjukkan sekitar 34 persen remaja kita punya masalah kesehatan mental. Bayangkan jika fondasi rumah tangga itu rapuh sejak awal, anak-anak yang dihasilkan pun bakal kesulitan buat jadi generasi yang punya karakter kuat dan bahagia. Jadi, kalau ada yang bilang "cinta saja cukup buat modal nikah", itu adalah hoax terbesar abad ini. Cinta itu cuma bensin, tapi untuk menjalankan mobilnya, kalian butuh mesin yang sehat dan sopir yang jago.
Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI): Upgrade Skill Menuju Ayah Masa Kini
Untuk mengatasi "kemacetan" dalam peran pengasuhan ini, pemerintah melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) mencoba mengubah norma sosial kita. Tujuannya simpel tapi impactful: mengubah paradigma bahwa ayah bukan cuma "mesin ATM" berjalan. Ayah harus jadi mitra kolaborasi.
Coba bayangkan kalau kalian sedang mengerjakan proyek kelompok di sekolah. Kalau cuma satu orang yang ngerjain semua tugas, sisanya cuma nonton, apakah proyeknya bakal bagus? Pasti berantakan. Begitu juga dengan mendidik anak. Pengasuhan ideal itu terjadi ketika ayah dan ibu berbagi beban, berbagi tugas, dan berbagi cinta. Kehadiran kedua orang tua ini bakal membentuk memori positif di otak anak. Memori ini lah yang nantinya jadi backup data utama saat mereka tumbuh dewasa dan menghadapi dunia luar yang kejam.
Buat kalian yang lagi berencana melangkah ke jenjang serius, jangan cuma fokus ke venue pernikahan atau souvenir. Mulailah persiapkan mental menjadi orang tua sejak sekarang. Memang, belajar jadi ayah itu nggak ada sekolah formalnya yang bikin kita langsung dapet ijazah, tapi kita bisa mulai dengan membaca buku, ikut kelas pranikah, atau sekadar berdiskusi dengan pasangan tentang bagaimana kita akan membagi peran nantinya.
Mengapa "Kehadiran" Itu Lebih Mahal dari Emas?
Mungkin ada yang bertanya, "Kenapa sih harus repot-repot jadi ayah yang hadir? Kan yang penting anak sekolahnya bagus dan makanannya bergizi?" Teman-teman, dunia hari ini bergerak sangat cepat, lebih cepat dari koneksi 5G di HP terbaru kalian. Anak-anak sekarang butuh lebih dari sekadar materi. Mereka butuh sosok yang bisa diajak bicara saat mereka takut, sosok yang bisa jadi teladan saat mereka bingung memilih jalan, dan sosok yang bisa memberikan rasa aman.
Kehadiran ayah secara emosional itu seperti fondasi beton bagi sebuah gedung pencakar langit. Semakin dalam dan kuat fondasinya, semakin tinggi gedung itu bisa dibangun tanpa takut roboh diterjang badai. Kalau fondasinya cuma tanah lembek (alias ayah yang nggak hadir), gedung itu mungkin terlihat megah dari luar, tapi di dalamnya keropos.
Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena melewatkan masa emas pertumbuhan anak kita. Masa-masa anak masih kecil itu tidak akan bisa di-rewind atau di-replay layaknya video di YouTube. Begitu terlewat, ya sudah. Itulah kenapa BKKBN terus menggaungkan pentingnya peran ayah sejak sebelum menikah. Karena membangun keluarga itu butuh persiapan matang, bukan sekadar "jalanin aja dulu".
Kesimpulan: Pernikahan Adalah Proyek Kolaborasi Jangka Panjang
Jadi, untuk kalian para calon ayah di luar sana, pesan dari Kemendukbangga ini sebenarnya adalah sebuah undangan untuk naik level. Menikah bukan akhir dari kebebasan, tapi awal dari tanggung jawab besar untuk membentuk generasi penerus yang tangguh.
Jangan takut terlihat "cupu" karena banyak belajar tentang cara mengasuh anak atau cara berkomunikasi yang baik dengan pasangan. Justru, itulah tanda kalian pria yang matang dan siap menghadapi tantangan masa depan. Ingat, tips menjadi orang tua yang bijak itu sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal kecil di keseharian, seperti mendengarkan pasangan dengan sepenuh hati atau meluangkan waktu berkualitas tanpa gangguan layar.
Mari kita ubah narasi lama. Ayah bukan lagi sosok yang ditakuti di ruang tamu, tapi sosok yang dirindukan kehadirannya di ruang keluarga. Dengan kolaborasi antara ibu dan ayah yang saling melengkapi, kita bisa menekan angka fatherless dan memastikan anak-anak Indonesia tumbuh menjadi individu yang sehat, bahagia, dan berkarakter. Jadi, sudah siap jadi ayah yang benar-benar "hadir"? Karena pada akhirnya, warisan terbaik yang bisa kita berikan kepada anak bukanlah harta yang menumpuk, melainkan memori tentang seorang ayah yang selalu ada di setiap langkah mereka. Ayo, mulai persiapkan dirimu sekarang!
